Review: Garnier Micellar Oil-Infused Cleansing Water

Kembali bersama Njoph di sini.

Mengingat semakin menumpuknya koleksi skin care dan lipstik di rumah, kayaknya mulai sekarang isi blog gue ini bakal banyak tentang review. Sekalian biar kemampuan gue nulis ga ilang sih ceritanya.

Kali ini, gue mau me-review micellar water terbaru dari Garnier. Sebelumnya, Garnier udah dikenal punya dua micellar water, yaitu Garnier Micellar Cleansing Water tutup pink dan Garnier Micellar Cleansing Water Pure Active yang tutupnya biru. Menurut gue, keduanya punya efek membersihkan yang lumayan, tapi tetap sih harus berkali-kali digunakan kalo lagi full makeup karena nggak sebersih Bioderma.

Nah, baru-baru ini, Garnier meluncurkan Garnier Micellar Oil-Infused Cleansing Water. Pas melihat botolnya di Guardian, gue langsung tertarik buat beli. Soalnya, keliatan kece aja gitu karena bagian oil-nya kelihatan sparkling warna gold. Nggak kayak minyak goreng gitu, hahaha.

IMG20180217232550

Hal lain yang bikin gue tertarik beli adalah belum pernah micellar water menggunakan oil sebagai salah satu bahannya. Biasanya, yang sering kita lihat kayak gini adalah eye and lip remover. Itu pun bagian oil-nya warna biru.

Waktu pertama mau dipakai, cukup khawatir bakal bikin muka berminyak. Muka gue ini udah berminyak banget. Kalo ditambah yang oil-oil gini takutnya makin kayak kilang minyak. Untungnya, kekhawatiran gue tidak terbukti, sodara-sodara!

Hal pertama yang gue lakukan adalah membersihkan bibir dari lipstik matte. Micellar water ini sukses melakukan pekerjaannya dengan sempurna. Lalu, gue beralih ke mata yang saat itu sedang menggunakan eyeliner dan maskara waterproof. Dan… berhasil bersih juga! Bonusnya lagi, nggak bikin perih di mata.

Lanjut ke bagian wajah keseluruhan. Menurut gue, Garnier Micellar Oil-Infused Cleansing Water ini punya formula yang jauh lebih bagus dibanding micellar tutup biru dan pink karena lebih cepat membersihkan. Muka lebih cepat bersihnya dari foundation–meskipun tetap butuh beberapa kali usapan. Kerennya lagi, ternyata nggak bikin muka berminyak. Meskipun ada kandungan oil-nya itu, muka rasanya kayak dibersihin pakai micellar water yang bener-bener air aja.

Oia, Garnier Micellar Oil-Infused Cleansing Water ini ada aromanya, ya. Tapi nggak mengganggu kayak Corine de Farme yang bikin pusing. Aroma Garnier Micellar Oil-Infused Cleansing Water kayak ada citrus yang bikin seger gitu. Jadi bukan nilai minus kalo buat gue.

Apakah setelah habis akan beli lagi? Kayaknya sih iya.

 

Advertisements

Review: Dear Me Beauty Matte Lip CreaMe

Image dari Sociolla

Holaaaaaa…

Kembali lagi bersama Njoph di sini. Jadi, ada yang belum sempat gue ceritakan di blog ini. Gue itu sekarang sangat kecanduan… beli lipstik! Asli! Setahun belakangan ini, jumlah lipstik gue udah ratusan dan gue nggak ngerti kenapa bisa jadi begini. Niat awalnya, sih, biar bisa buat dibikin review-nya di blog. Tapi apa daya, rasa malas terlalu besar.

Nah, untungnya niiiih… sekarang lagi muncul rajinnya. Gue kali ini mau me-review lip cream baru keluaran PT Garland Cantik Indonesia dan dibuat oleh PT Cedefindo. Namanya adalah Dear Me. FYI, PT Cedefindo itu juga membuat brand-brand lipstik dan lip cream yang kece-kece, kayak Esqa, Dissy, Candy Color, Val, Posy, Olla, Polka, MOB, SASC, dan ElsheSkin.

Packaging-nya gemesiin. Polkadot dan bibir di mana-mana. Hahahhaa. Kurang lebih kayak gini:

Review Dear Me

Review Dear Me

review dear me

review dear me

review dear me

review dear me

Awalnya, nih, gue sempet menyangka tulisan di kardusnya itu typo gara-gara nulisnya Matte Lip Creame. Ternyata, eh, ternyata, itu emang sengaja. Soalnya, hashtag lip cream ini adalah #ComfortMatteCreaMe. Jadi Dear Me CreaMe gitu ceritanya, cyiiin.

Lip cream ini nggak mengandung paraben dan disebut memiliki kandungan antioksidan untuk melindungi bibir dari radikal bebas. Jarang-jarang atau malah belum pernah ada ya, produk bibir yang punya kandungan antioksidan? Oia, ini juga cocok buat orang-orang yang vegan karena dibuat dari bahan-bahan alami alias plant based. Cocok juga buat pencinta binatang kayak gue karena cruelty-free. Sungguh lip cream yang mulia. Tsaaaaah.

Oia, begitu gue buka dan nyium aroma lip creamnya… makjaaaaaaaaaaaang.. rasanya langsung gue pengen jilat itu aplikatornya. Baunya enak banget. Perpaduan susu coklat, cake, atau apa pun yang enak banget, yawlaaaaah. Gue emang paling suka aroma yang manis-manis gini karena gue juga manis.

Dear Me ini punya delapan shade warna yang dinamakan pake embel-embel Dear semua, yaitu Dear Julie, Dear Anna, dan Dear Leya untuk warna-warna nude, Dear Kiki untuk warna pink, Dear Jessica dan Dear Ella untuk warna merah, serta Dear Jenny dan Dear Maya untuk warna gelap marun-ungu gitu.

review dear me

Warna-warna nude-nya bagus-bagus bangeeeeeet. Dear Julie itu nude ke cokelat, Dear Anna itu nude ke pink, Dear Leya nude ke terracotta alis coklat keoren-orenan. Nah buat merahnya, Dear Jessica juaraaa! Warna merah cabe keren banget. Pake ini langsung berasa kayak Gwen Stefani.

Teksturnya nggak terlalu cair dan pigmented. Eh, tapi buat Dear Kiki cenderung lebih sheer dan glossy dibanding yang lain, deng. Nggak tau ini perasaan gue doang atau gimana, tapi gue merasa ada hint rasa mint pas make lip cream ini. Tapi, pas temen gue pake dia bilang nggak.

Oia, lip cream ini nggak transferproof ya. Tapi, nggak cepet ilang juga di bibir. Kalo dipake makan yang brutal, cuma warna di bibir bagian dalam yang udah ilang. Yang gue suka lagi, beneran enak dipake. Tetep berasa pake lipstik, sih. Cuma nggak ganggu dan n juga nggak memperjelas garis-garis di bibir. Abis dipake dia juga nggak langsung cepet matte gitu jadi ngga kering di bibir.

Dear Me ini udah bisa di beli di Sociolla dengan harga Rp 89.900 aja.

Selamat mencobaaaaa!

Badanku Dulu Tak Beginiii…

Hiks.

Tahun 2017 ini terjadi perubahan dalam hidupku. Selain kantor baru di #KerenHakSegalaBangsa, gue juga mengalami perubahan lain yang cukup terlihat memprihatinkan.

Di tahun ini, BERAT BADAN GUE MENCAPAI 80 KILOGRAM, MEEEEEEN!!! GILAAAAAAK!!! HATIKU HANCUR!!!

 

10531457901452197049
image: http://wisgoon.com/pin/12706781/

 

Oke kesampingkan dulu usaha kalian untuk bilang, “Gapapa gemuk yang penting pede dan sehat.” No, gue ga pede dengan tubuh yang segede gaban gini. Ada yang juga bilang, “Masih banyak kali yang lebih gendut dari lo.” No, gue nggak peduli sebanyak apa pun cewek yang bertubuh lebih gemuk dari gue. Yang gue tahu, inilah adalah bobot tubuh terberat yang pernah gue miliki selama ini. Sedih banget rasanya.

Dulu berat badan gue selalu berada di kisaran 65 kg. Entah mengapa, setelah menikah, jadi cepet banget melarnya. Nafsu makan menggila, keinginan ngemil membuncah, dan nggak pernah lagi olahraga karena udah berhenti ngegym. Kusedih.

Masalahnya, semenjak berat badan meningkat ini, bukan cuma baju dan celana jadi nggak bisa dipakai karena kekecilan, melainkan juga gue merasa kesehatan mulai terganggu. Gue jadi gampang capek, kaki berasa berat banget menopang tubuh. Kulelah.

Sayangnya, belum ada usaha ekstra yang kulakukan demi mengurangi bobot tubuh ini.  Mungkin karena di alam bawah sadar, gue merasa udah laku. Hahaha. Tapi tetap, gue bertekad harus kembali ke berat badan ideal supaya nggak nurunin pasaran.

Perubahan lain yang kualami dan bikin senewen adalah…. MUKA GUE SEKARANG JERAWATAN PARAH!!!

Terakhir kali gue jerawatan itu pas SMP. Bayangkan, udah lama banget ye kan. Kalaupun setelah itu muncul jerawat, paling cuma 1-2 biji di dagu kalo lagi stres atau mau mens. Nah, sekarang ini, jerawat muncul di pipi kanan kiri, dagu, dan jidat dalam jumlah sangat banyak plus berbekas ga bisa ilang. Itu belum ditambah dengan bruntusannya. Kuterluka.

Gue nggak tau penyebab jerawat ini. Tapi gara-gara terlalu semangat menggunakan semua jenis obat jerawat, jadinya muka gue makin nggak karuan. Nah, untuk saat ini, gue lagi mau mencoba pakai rosehip oil yang konon kabarnya ampuh menghilangkan bekas jerawat. Untuk jerawat yang mateng-mateng, gue masih belum bisa menemukan obat yang pas. Nanti akan kuceritakan lebih lanjut tentang pengalaman menggunakan obat-obat itu.

Begitulah info terkini tentang nasib saya. Sekian dan terima kasih.

Mendukung #KerenHakSegalaBangsa

Hai.. hai..

Melanjutkan  blog gue sebelumnya tentang hijrahnya gue ke GADIS, di tahun 2017 ini, gue membuka lembaran baru dengan kantor baru yang membuat rekor dalam hidup gue. Bayangkan, di hari kedua gue masuk, gue udah pengen resign. Hahahaha…

Jadi sodara-sodara, gue sekarang kerja di perusahaan retail asli Indonesia yang pastinya kalian semua kenal dan pernah liat namanya di mana pun karena store-nya banyak banget di Indonesia. Hayooo apaaaaa??

jeng

jeng

jeng

jeng

RAMAYANA.

Yes, baby. RAMAYANA. Yang bahkan kayaknya terakhir kali gue datangi itu pas gue masih bocah banget deh saat dua nama retail yang berkuasa cuma ada Ramayana dan Sang Surya Matahari.

Semua orang yang tahu gue pindah ke Ramayana pasti langsung terdiam sesaat dan balik nanya “Serius, Njoph?”. Asal ngana tahu, di kantor ini gue harus pakai baju putih dan rok item dari Senin-Kamis. Udah macam SPG kan braaaaay. Untung modelnya bebas, nggak harus kemeja dan rok sepan.

Nah, gue kerja di Ramayana ini sebagai copywriter. Kantornya di Wahid Hasyim. Gedung kece, braaay. Pas liat gedungnya, kantor lama gue seperti butiran debu karena yang satu gedung tua, yang ini modern banget.

Gue masuk 4 Januari 2017. Di hari pertama dijelasin banyak peraturan umum dan di sesi inilah gue akhirnya tahu bahwa kantor ini menerapkan sistem potong gaji buat yang telat masuk.

OMG! Peraturan ini bikin gue sangat nelangsa. Bayangin aja, gue itu kerja di media dari 2008 yang jam masuknya cukup fleksibel banget. Bahkan, gue di Femina Group bisa banget baru nyampe kantor jam sentengah 11 siang! Trus sekarang jam masuk kerja gue jadi 08.30 dan kalo telat, gue kena potong gaji. GIMANA GA NELANGSAAAAAA….

Urusan baju dan jam kerja ini bikin gue sedih. Belum lagi, sistem alur kerja yang nggak gue mengerti. Potek hati adek tiap inget kehidupan masa lalu sebagai jurnalis. Hiks. Itu yang bikin gue sempet pengen resign. Iya, gue emang selemah itu.

Dari yang awalnya berniat resign, ternyata gue berhasil bertahan. Bahkan gue menemukan banyak keseruan yang nggak pernah gue pelajari sebelumnya. Gue kenal istilah masthead YouTube untuk pertama kalinya di kantor ini. Hahaha. Padahal, satu-satunya istilah masthead yang gue denger selama ini adalah bagian awal majalah yang mencantumkan nama-nama redaksi. Meskipun gue jadi produser YouTube GADIS, ternyata pengetahuan tentang YouTube ads gue masih nol banget.

Di kantor ini pula, gue belajar berbagai macam socmed ads dan dunia retail. Bahkan, gue pun tahu proses pembuatan iklan dari mulai pitching, nyari konsep ide, milih model, sampai promosi setelah iklan itu jadi. Itu seru banget dan capek sih!

Gue juga belajar menjadi alay sejati. Haahahaha. Konten social media yang gue bikin amat sangat dangdut, meeeen. Konten yang nggak bakal mungkin gue bikin buat CC, GADIS, dan JFW. Dari yang dulunya gue suka nulis dengan bahasa elegan, sekarang jadi jago gombal. Gue bahkan sering geli sendiri sama yang gue baca. Hahaha.

Segitu aja cerita gue kali ini. Yang jelas, dari pengalaman ini, gue lagi-lagi belajar kalo ninggalin comfort zone selalu bisa bikin lo belajar hal baru. Percayalah. Dan, gue sekarang bangga kalo ditanya kerja di mana.

 

large
image dari: we heart it

 

Selamat Menempuh Hidup Baru!

OMG!

Ternyata udah hampir setahun gue ga posting apa pun di blog ini. Maklumilah, gue sibuk gitu anaknya. Hahaha…

Jadi, banyak banget yang belum gue ceritain di blog ini. Dalam setahun belakangan ini, gue benar-benar dapet banyak pengalaman baru. Itulah sebabnya judul blog ini adalah Selamat Menempuh Hidup Baru. Bukan.. bukan artinya gue kewong lagi (amit-amit ya Allah *knock the wood*), melainkan gue punya kehidupan baru di luar Cita Cinta, bahkan di luar Femina Group.

Bergabung sama Kakak-kakak Kece

Setelah CC bubar jalan, gue pindah ke majalah GADIS. Buat adaptasi sama orang-orangnya sih ga susah karena gue ditempatin di bagian online/gosip yang artinya ketemu sama orang-orang yang sering ketemu setiap gue liputan atau wawancara seleb pas masih di CC. Nah, masalahnya adalah gue harus beradaptasi sama sistem kerja mereka. Beda banget, cyiiiin!

Waktu di CC, setiap selesai ngerjain tulisan, kami tinggal teriak aja ke editor atau tim desain grafis, ngasih aba-aba bahwa artikel siap diedit atau di-layout. Nah, di GADIS, semua terstruktur banget. Setiap selesai ngerjain tulisan, harus nulis di job paper, lalu job paper itu diserah ke editor, dan akhirnya editor ngasih ke tim artistik. Saat itu, bahkan gue nggak ngerti apa itu job paper. Gila yak.. Masih dalam satu grup, tapi beda majalah aja udah beda banget sistem kerjanya. Terlihat sekali dulu anak-anak CC kayaknya berandalan banget idupnya. Hahahaha.

Di GADIS ini, gue dapat kepercayaan buat jadi kepala kavling online. Jadi, gue harus ngurusin banget web GADIS yang kece itu. Gue juga jadi produser YouTube GADIS yang juga aktif banget dan sering dijadikan suri tauladan bagi majalah-majalah lain di Femina Group.

Repot? Banget! Di awal-awal, gue kerepotan sendiri dengan kerjaan yang serbabaru itu. Tapi, lama-kelamaan seru banget dijalanin. Asli deh.. Gue banyak belajar banget dari GADIS tentang mengurus website, nulis artikel hot news yang langsung tayang, sampai mikirin konten buat YouTube. Gue pun akhirnya terbiasa juga manggil nama orang dengan embel-embel “Kak” di depannya tanpa melihat usia. Macam mbak-mbak Giordano zaman dulu.

Tapi sayang beribu sayang, kebersamaan gue dan anak-anak GADIS cuma berlangsung sembilan bulan aja. Bukan tak cinta, bukan tak sayang, melainkan karena ada masalah di kantor yang menurut gue udah nggak bisa ditoleransi lagi.

Gue pun memutuskan resign dan meninggalkan para kakak-kakak kece. Sedih banget, lho. Di hari terakhir aja gue masih ragu mau beneran resign apa ga. Sampe nangis terisak-isak di ruang WGM yang merupakan salah satu petinggi FG. Asli, nangisnya nggak santai banget. Apalagi pas WGM mengelus kepala sambil bilang, “Jangan pergi lama-lama ya. Semoga inget pulang lagi ke FG.” Momen ini seperti momen tali kasih.

Dan.. Inilah foto-foto kebersamaan gue dengan para kakak-kakak kece di GADIS.

IMG-20160624-WA0026IMG-20160921-WA0016IMG-20161127-WA0031IMG-20161202-WA0000IMG-20161231-WA0018

Ah, jadi kangen mereka.

Hiks..

PS:

Mau tahu perjalanan karier gue selepas dari GADIS? Tunggu postingan selanjutnya.

Stradivarius.. Oh, Stradivarius..

Huft.

Tulisan kali ini memang disebabkan adanya “huft moment” akibat belanja di Stradivarius. Salah satu brand gengnya MAP ini emang udah jadi salah satu tempat favorit gw buat beli tas. Harganya ga mahal, tapi kualitasnya bagus. Awet banget kalo dipake, Braaay.. Jauh banget sama Charles & Keith yang udah mahal, tapi kualitasnya menurut gue kurang oke.

Tapi , masalahnyaaaaaaa… Tas Stradivarius itu selalu menyusahkan hidup gue karena sensor alarmnya sering banget tiba-tiba aktif! Jadi, setiap masuk ke store lain, terutama store punya MAP, tas gue selalu bikin alarm bunyi! Dan solusi dari mbak2 kasirnya adalah harus kembali ke store tempat kita beli untuk menonaktifkan alarmnya. BRAVO!

Jadi, sodara-sodara.. Di dalam setiap tas Stardivarius, ada alarm tanam yang menurut mbak-mbak kasirnya bisa aktif kalo kena radiasi, terutama handphone. Dan alarm tanam kampret itu ditempel di dalam tas, di balik kain pelapisnya. Coba deh kalo kalian punya tas Stradivarius, kalian raba-raba bagian dalam tas itu dengan seksama.. Dijamin kalian akan merasakan ada benda yang nempel di bagian kulitnya.

Karena lelah bikin alarm bunyi, akhirnya gue memutuskan mendedel sedikit jahitan lapisan di dalam tas gue. Hasilnya, gue menemukan sensor alarm kampret yang jadi sumber masalah. Begini bentuknya.. (Btw, ini fotonya ngambil dari sini karena yang punya gue langsung gue patah-patahin saking geregetannya):

Tuh, begitulah bentukan sensor alarm kampret itu! Jadi kalau kalian ada yang mengalami masalah yang sama dengan gue, carilah sensor alarm itu di dalam tas. Percalayah, menggunting barcode yang ada di label mereknya bukan solusi.

Oke, masalah alarm yang ngeselin itu tetap ga bikin gue kapok buat belanja di Stradivarius. Bahkan, gue baru saja membeli tas lagi di sana. Tapi, lagi-lagi “huft moment” itu datang. Pas sampe rumah dan ngeluarin tasnya dari plastik, lalu mengecek kembali isi tas itu, gue menemukan ini…

MAGNET TASNYA BELOM DILEPAS, MALEEEEEEEH!!!!!

HUFT. HUFT. HUFT.

Mbak-mbaknya kelupaan nyopotin dan gue tentu saja malas untuk kembali lagi ke storenya di Grand Indonesia cuma buat ngelepas magnet kampret tersebut.

Setelah putus asa menarik dan memutar-mutar magnet itu–yang luar biasanya kerasnya–gue hampir memutuskan buat menggunting kainnya. Untungnya, gue teringat kalo belum meminta wangsit dari Mbah Google. Akhirnya, setelah mencari ke sana ke sini, kutemukan link ini. Ternyata, salah satu cara melepas security tag atau magnet sensor adalah menggunakan karet gelang!

Jadi, kita tinggal mengikatkan karet gelang di bagian sensornya sampai ketar banget. Kalo merasa belum terlalu ketat, kalian bisa pake beberapa buah kok. Gue aja makenya tiga karet.

Setelah itu, tinggal puter-puter magnet sensor itu dan voilaa… Bisa copot! Oh iya, jangan bayangkan momen muter sampe magnetnya lepas itu gampang ya. Emang sih bisa copot, tapi tetep aja butuh usaha cukup lama sampe bikin tangan gue merah.

Berhasil.. Berhasil.. HORE!!!

Review Vendor Undangan: Cyra Design

Iya.. Gue tahu.. Udah telat lama banget buat review semua printilan kawinan.. Tapi daripada nggak sama sekali yee kaaan..

Buat acara kewongan kemaren, gue menggunakan jasa Cyra Design milik desainer grafis Nancy Tjakra. Berhubung udah kenal baik dan gue tahu banget gaya desainnya dia, dari awal gue emang udah niat bikin undangan di Cyra.

Gue sengaja bikin undangan yang simpel aja. Selembar. Dari bahan karton agak tebal dan cukup dibungkus plastik. Selain undangan udah pasti bakal dibuang sama orang, gue juga mau menekan bujet. Ga ada deh dalam kamus gue bikin undangan bergengsi demi teman-teman ortu. Karena semua bujet ditangggung sendiri sama gue dan pacar, keluarga pun menyerahkan sepenuhnya sama kami.

Namanya juga vendor undangan, Cyra Design ini bisa merealisasikan beragam ide yang kita mau. Yang gue suka, baru gue omongin via WhatsApp tentang undangan yang gue mau, besok paginya, Nancy udah memberikan gue draft pertama undangan itu. Kilat sekali, sodara-sodara! Dan hebatnya, emang sesuai kemauan gue. Sampai akhirnya undangannya jadi, gue cuma butuh beberapa kali revisi. Itu pun revisi nggak penting-penting amat sih. Yang pertama, gue mau tahi lalat si pacar di undangan terlihat lebih tebal. Revisi kedua, gue mau warna kulit pacar dibuat lebih gelap dibanding kulit gue. Hahaha..

Setelah jadi, beginilah undangan gue…

WEDDING NJOPH (1)
Tampilan depan undangan tanpa nama ortu.
2016-05-22_21.05.05
Tampilan depan undangan dengan nama ortu. Iya, itu bagian merah yang ngeblur adalah nama ortu kami. Sengaja dibikin ngeblur untuk menghindari tindakan kriminalitas. *tsaaaah

Undangan yang menyertakan nama orangtua sengaja dibuat untuk ngasih ke keluarga besar, temen bokap/nyokap yang udah dianggap kayak keluarga, serta para tetangga dekat. Sisanya, pake undangan yang tanpa nama ortu.

Nah, kalo tampilan belakangnya kayak gini…

WEDDING NJOPH2
Tampilan belakang isinya cuma peta simpel yang dibuat unyu-unyu gitu.

Buat kalian yang masih bingung mau bikin undangan yang murah meriah tapi kece di mana, gue menyarankan coba ke Cyra Design. Apalagi kalo kalian mau undangannya custom. Kalian bisa cek di Instagram @cyra_design dan liat kontaknya di bio IG itu.

Kalo misalnya mau studi banding dulu juga boleh. Cek undangan yang kalian pengen di Tebet (yang jadi pusat undangan sejuta umat, tapi ga gue kunjungin sekali pun karena gue nggak tertarik undangan mainstream), tanya harga, lalu bandingin dengan harga di Cyra. Karena sesungguhnya survei harga adalah kewajiban penting bagi para calon pengantin, bukan? Hehe..

Ya sudah kalo gitu.. Tunggu review vendor lainnya dari gue yaa.. Kalo ada pertanyaan tentang harga undangan yang gue bikin, silakan kontak gue ke fanny.indriawati@gmail.com. Gue dengan senang hati akan membantu para calon pengantin yang lagi pusing mikirin vendor..

Dadah babaaai!