Review: 1-DAY ACUVUE DEFINE

Belakangan ini agak males buka blog karena harus melihat Daisypath yang ngasih tahu hitungan mundur menjelang hari H. Bikin gue makin senewen, panik, dan heboh sendiri–maklum Virgo. Emang sih bisa dihapus, tapi kan pengen ikutan kayak pasangan lain yang masang begituan di blog mereka. tsaaah..

Buat yang penasaran, akhirnya gue memutuskan menggunakan vendor Permata Catering. Selain karena ada paket internasional, makanannya juga enak dan harganya murah. Tapi masalah katering ini akan gue bahas lebih lanjut di lain waktu. Soalnya, kali ini gue mau menceritakan kemajuan pesat dalam hidup gue: BERANI PAKE SOFTLENS!!!

Dari dulu, gue paling ga berani mengutak-utik bagian mata karena emang sensitif banget. Ditambah lagi, ukuran mata gue sangat minimalis karena cuma segaris. Setiap pake eyeliner di bawah mata, langsung keluar air mata dan mendadak merah banget. Jadi, memasukkan sesuatu ke dalam mata adalah hal yang sebelumnya amat sangat gue hindari.

Nah, urusan kewongan ini bikin gue mau ga mau HARUS nyoba pake softlens karena ga mungkin banget kan gue udah kece-kece pake wedding gown atau kebaya, eh tetep pake kacamata. Bayanginnya langsung drop. Kalo lepas kacamata doang tanpa softlens, sepanjang resepsi dijamin gue rabun karena mata gue minus 5.

Karena nggak berani makenya, niat untuk beli softlens pun selalu ditunda-tunda. Namun, memang Tuhan memberikan jalan…. gue ditugaskan menjajal produk baru Acuvue. Jeng jeng jeng jeeeeeeng….!!!!

Gue udah sempat mengoper tugas ini ke Joey dan Peo, tapi mereka menolak karena ngeri pake softlens. Jadinya, tetap gue yang menjalankan tugas mulia tersebut. Akhirnya, di siang hari yang cerah, berangkatlah gue ke Optik Melawai GI untuk bertemu PR Acuvue.

Momen mengerikan pun tiba. Setelah periksa minus mata, gue harus mencoba softlensnya. Setelah cuci tangan, gue duduk manis di depan cermin, meletakkan softlens di ujung telunjuk kanan, membuka mata kanan lebar-lebar dengan tangan kiri, mendekatkan softlens ke mata kanan, daaaaaan….. mata gue langsung merem sebelum softlens masuk ke mata.. dan itu terjadi berulang-ulang..

Karena putus asa, gue pasrah ketika Dyan dari Agrakom (PR-nya Acuvue) memberi solusi supaya mas optiknya aja yang makein. Setelah berjuang bersama mas-mas optik selama 15 menit, softlens berhasil terpasang di mata gue!!! Saat itu, gue pengen banget nebar confetti.

Hebatnya, si Acuvue ini tampaknya emang cocok buat pengguna baru softlens. Di mata sama sekali ga terasa ganjel. Mata gue yang sangat sensitif pun cocok banget pake softlens ini. Dan keuntungan lainnya, dia adalah soflens harian jadi pas buat gue yang belum punya pengalaman melepas softlens. Kenapa gue bilang gitu? Ini sebabnya:

Liat kan betapa hancurnya salah satu softlens? Itu karena gue ga bisa mengeluarkannya dari mata secara benar, hahahaha… Ditambah lagi, gue geregetan banget karena ga bisa-bisa ngambil softlensnya dari mata. Soalnya, setiap jari mau masuk ke mata, lagi-lagi gue merem. Asli, momen melepas softlens bagi gue lebih menyeramkan daripada masangnya. Gue sampe nonton video tuturial acuvue di Youtube, trus minta petunjuk ke Vini dan Lucky yang sering make softlens. Setelah berjuang berjam-jam (ini ga lebay, beneran berjam-jam!), akhirnya gue sukses mengeluarkannya dan karena geregetan, softlensnya langsung gue bejek-bejek. Bayangkan kalo gue makenya softlens bulanan… bisa tekor! Lagian, buat gue yang sering parno urusan kebersihan, softlens harian emang lebih enak.

Acuvue Define ini punya tiga warna, yaitu Accent Style (Black), Natural Shine (Gray Gold), sama Vivid Style (Brown). Gue pake yang Accent Styles sama Vivid Style soalnya terlihat natural di mata. Kalo katanya si pacar sih beneran ga kayak pake softlens. Satu kotak isinya 30 biji alias 15 pasang. Untungnya minus mata kanan sama kiri gue sama jadi nggak ribet makenya. Dan inilah yang gue punya:

Gue punya empat kotaaaak… muahahahaha… berasa horang kayaaa…

Oia, karena sudah lebih sering makenya, gue pun lebih beradab ketika melepasnya. Bahkan di hari kedua gue make softlens, pas gue lepas pun ga pake adegan bejek2 lagi.. tapi tetep belom jago banget sih.. Sampe sekarang tetap butuh waktu juga kalo buat masang sama ngelepasinnya. Cuma setidaknya, ga selama di waktu pertama make. Oia, gue selama ini makenya juga tanpa pake obat tetes sama sekali dan masih tetap nyaman di mata. Nggak berasa kering atau perih meskipun dipake lebih dari 10 jam. Memuaskan banget deh pokoknya. Makanya, gue sangat merekomendasikan softlens ini buat para hadirin yang baru mau menggunakan softlens untuk pertama kalinya. Selamat mencoba!

PS: Ini bukan review berbayar.. sesekali aja pengen berasa beauty blogger.. haha.. sekian dan terima kasih..

salam olahraga!

Advertisements

Review Minimalis: Permata Catering, Wifa, Hendra Pelangi, Nendia Primarasa

(image: http://vi.sualize.us/)
(image: http://vi.sualize.us/)

Gue masih belum dalam mood bercerita tentang konser 1D. Mungkin nanti di postingan setelah ini. Kali ini, gue mau melanjutkan dulu ngomongin hal-hal terkait kawinan. Huft.

Urusan gedung udah beres. Akhirnya, gue dan si pacar memilih Langen Palikrama, Pegadaian. Sebenarnya, emang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama sih waktu itu. Gedungnya yang terlihat klasik bikin keren.

Masalah gedung terselesaikan, kini kami ribet nyari katering yang pas. Beberapa katering yang udah kami ikutin test foodnya adalah Permata Catering, WIFA, Nendia Catering, dan Hendra Pelangi. Hmm, sebenernya kalo Hendra Pelangi nggak dihitung test food resmi sih. Soalnya, kami nyoba pas lagi survei Gedung Cawang Kencana hehehe. Tapi itu pun langsung bertekad ga mau pake katering ini karena jorok. Pas nyoba somay, mas-masnya nuangin bumbu belepotan kena taplak. Kesannya jadi berantakan banget.

Nah buat yang Permata, Wifa, dan Nendia, kami memang dapet undangan langsung dari para marketingnya. Soal rasa, ketiganya memuaskan. Suka sama Wifa karena orang kateringnya ngejagain makanannya nggak cuma di gubukan-gubukan, tapi juga di bagian puding dan buah-buahan. Biasanya kan kalo di kawinan, bagian dessert ini ga pernah ada yang jaga jadi terkadang suka ada lalat-lalat nakal (ya mungkin ini tergantung gedungnya juga sih). Kalo ada mas-masnya, paling nggak pas ada lalat, mereka tinggal mengibaskan tangan untuk mengusir.

Kekurangan Wifa adalah… nggak menyediakan rekanan bridal yang cocok dan jarang dipake untuk nikahan konsep internasional. Gue sama pacar emang niatnya mau pake dress dan jas aja. Nah, rekanan rias pengantin sama busana si Wifa ini cuma Ratu Wedding yang fokusnya untuk kawinan tradisional. Paketan kateringnya pun nggak ada yang internasional.

Sekarang di saat gue sedang menimbang-nimbang antara Permata dan Nendia, muncullah keinginan untuk menjajal Nabilla Catering. Bukannya makin mengerucut malah makin banyak mau deh gue. Hiks. Aku pusing…

😥